Bangkit dari Keterikatan Harta Kekayaan
Lukas 4 : 33, Matius 6 : 24
Pada umumnya orang mengejar kesejahteraan hidup. Dan kesejahteraan itu, pada umumnya diukur berdasarkan jumlah uang dan barang yang bisa dimiliki, maupun digunakan oeh seseorang. Dan agaknya, telah menjadi budaya kebanyakan orang untuk mengagung-agungkan uang. Seakan-akan uang begitu besar kuasanya, dan segala sesuatu bisa dibeli dengan uang. Uang tidak hanya sekedar alat tukar untuk barang dan jasa, tetapi kemudian juga menjadi komoditi yang diperjual-belikan. Dan dampak buruknya, bisa menimbulkan krisis nilai tukar uang, atau yang disebut Krisis Moneter.
Kecenderungan orang untuk mengejar dan memiliki uang telah mengakibatkan banyak kejahatan, antara lain beredarnya uang palsu, tindak pidana korupsi dan berbagai kejahatan lainnya. Uang telah berubah posisi dari alat tukar , menjadi tujuan yang dimuliakan dan didewakan. Akibatnya, nilai-nilai luhur dan martabat manusia sering dikorbankan demi memperoleh uang.
Di tengah situasi yang demikian itu, Tuhan kita Yesus Kristus berfirman, “Demikianlah tiap-tiap orang di antara kamu , yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”
Apakah artinya firman itu bagi kita ? Artinya sungguh jelas , yaitu kita harus bangkit dari keterikatan kita dengan harta milik kita. Tapi bagaimanakah hal itu bisa kita laksanakan ? Bukankah kita ini masih hidup di dunia, dan karenanya, harta milik itu sungguh amat penting bagi kehidupan kita? Tanpa harta milik kita tidak mungkin hidup sebagai manusia yang bermartabat. Di sini., masalahnya perlu kita pikirkan dengan jernih.
Tuhan Yesus menghendaki kita melepaskan diri dari segala milik kita. Jelas itu merupakan usaha yang sulit, dan tampaknya mustahil. Tapi sebenarnya, itu bukan perkara yang teramat rumit. Sederhana saja sebenarnya. Yaitu apakah kita mau mentaati Yesus sebagai Tuhan kita atau tidak. Taat atau tidak. Kalau kita taat, kita tidak akan mempersoalkan dengan berbagai dalih yang ada di pikiran kita. Kalau kita taat, kita akan jawab, “Ya, saya akan laksanakan, Tuhan.” (Sendiko dhawuh , Gusti ).
Tetapi baiklah, agar pikiran kita jernih, kita akan pertanyakan dulu, Mengapa Tuhan Yesus menghendaki kita melepaskan diri dari segala milik kita.
Dalam Keluaran 20:3, TUHAN berfirman, “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku.” Umat Israel tidak boleh punya allah lain. Cukup satu Allah saja. Yaitu Tuhan Allah yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Harus, hanya satu Allah.
Dalam Matius 6: 24, Tuhan Yesus berfirman, “ Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Mamon adalah harta kekayaan. Harus pilih: Mamon atau Allah. Tidak bisa dipilih dua-duanya. Harus dipilih satu.
Banyak orang telah terjerat mengabdi kepada Mamon. Harta kekayaan begitu dipuja dan di dewakan melampaui batas. Pengabdian kepada Allah sering dikalahkan, oleh alasan-alasan ekonomi. Karena itu, Mamon harus kita lawan dan kita taklukkan. Sehingga kita hanya mengabdi kepada Allah saja.
Pengabdian kita kepada Allah, jangan mau dikalahkan oleh urusan-urusan uang dan harta milik. Sebaliknya, harta milik kita harus kita kelola dan kembangkan demi pengabdian kita kepada Tuhan Allah.
Tuhan Yesus bermaksud membebaskan diri kita dari cengkeraman kekuasaan harta kekayaan, demi keselamatan kita bersama. Mari kita bangkit dari cengkeraman keterikatan dengan harta kekayaan kita. Mari kita persembahkan hati kepada Tuhan Yesus Kristus. Sehingga kita memiliki suka cita mempergunakan segala harta milik dan kekayaan kita untuk memuliakan nama Tuhan Yesus. Pekerjaan kita , bertani, berdagang, buruh dan sejenisnya, adalah demi ketaatan dan pengabdian kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita harus giat bekerja, bukan untuk mengumpulkan harta demi harta itu sendiri. Kita bekerja giat untuk mengabdikan seluruh penghasilan kita demi kepentingan Kerajaan Allah. Mari kita berlomba-lomba dalam pengabdian kepada Allah dan bukan mengabdi kepada Mamon.


