GKSBS Sumberhadi

Home Khotbah Mengubah Batu Menjadi Roti

Mengubah Batu Menjadi Roti

User Rating: / 0
PoorBest 

 

Bacaaan : Mat 4 : 1 - 11

Nast : Mat 4 : 3 - 4

Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."

Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."


 

Saudara saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus.

Bacaan kita Matius 4 : 1 – 11 menceritakan sebuah peristiwa dimana Yesus dicobai oleh iblis, tiga kali Yesus cobai oleh oblis.

Pertama Yesus di perintahkan oleh iblis untuk merubah batu menjadi roti.

Kedua Yesus di suruh menjatuhkan dirid ari bubungan Bait Allah

Ketiga Yesus di Iming imingi kekayaan duniawi agar mau menyembah iblis.

Ketiga pencobaan itu mampu di atasi oleh Yesus, tanpa keraguan sedikitpun.

 

Saudara saudara yang terkasih dalam Kristus,

Dalam kehidupan kita sehari hari kita juga selalu mengalami pencobaan.

Dari pencobaan yang kecil/ringan sampai yang besar/berat.

Kita sering kali dihadapkan pada masalah yang mengharuskan kita untuk memilih, memilih baik dan buruk, memilih benar dan salah.

Atau karena sebuah masalah kita justru menjadi lemah, patah semangat atau mencari penyelesaian dengan cara yang mudah namun tidak benar menurut firman Tuhan.

Dan mungkin juga di antara kita lari dari masalah lari dari tanggung jawab.

 

Saudara – saudara yang terkasih

Ada sebuah cerita yang akan membawa kita pada pencerahan budi.

Ceritanya begini:

 

Kang Karso adalah petani miskin. Tetapi Kang Karso sudah tidak kerasan menjadi orang miskin. Menurut Kang Karso, orang harus berjuang keras untuk mengatasi kemiskinan. Dengan hanya mengandalkan upah sebagai buruh tani dan kuli bangunan saja, Kang Karso merasa tidak cukup bekal untuk pergi dari kemiskinannya. Karna itu dia harus mencari terobosan, untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Tetapi apa yang akan dikerjakannya?

Kang Karso-pun mulai menginventarisir kemampuan dan peluang yang dimilikinya. “Wah…!” Gumamnya. “saya kan bisa bertani! Punya lahan lagi?!” Kang Karso-pun mulai merencanakan membuka lahan pertanian. Dia punya lahan pertanian yang sudah lama ditinggalkan karena dianggap kurang menghasilkan. Lahan itu cukup luas, tetapi sudah menjadi semak belukar, lagi pula terlampau banyak batunya. Katakanlah namanya ‘Lahan berbatu’. Kang Karso berniat membuka ‘lahan berbatu’ itu sehingga bisa memberikan penghasilan yang baik dan membawanya keluar dari kemiskinan.

Telah berhari-hari Kang Karso bekerja keras membuka ‘lahan berbatu’ itu. Semak belukar dia babat, dan batu yang berserakan dikumpulkannya hingga bertumpuk-tumpuk. Agaknya batu-batu yang banyak dan berserakan itulah yang mnenjadi biang persoalannya, sehingga jarang orang yang mau menggarapnya. Kang Karso-pun mulai kesal dengan batu-batu yang banyak itu.

Suatu hari setelah letih bekerja Kang Karso duduk diatas tumpukan batu di bawah pohon rindang, istirahat. Sambil memukul-mukulkan batu dengan batu Kang Karso-pun bergumam dalam doa “ Ah, andai saja Tuhan mau, Tuhan bisa mengubah batu-batu ini menjadi roti.” Ternyata kelaparan Kang Karso telah membuatnya berharap terjadinya keajaiban. Keajaiban batu menjadi roti. “Mungkinkah terjadi!?” pikir Kang Karso semakin serius. Kang Karso ingat dalam Injil Matius; Tuhan Yesus pernah digoda Iblis untuk mengubah batu menjadi roti, tapi sayang Dia tidak mau. Tuhan Yesus justru menjawab “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Menurut Kang Karso jawaban Tuhan Yesus mengacaukan pokok masalahnya, Tuhan Yesus bikin Kang Karso tambah semakin ‘judeg’ saja. Wong masalahnya itu, butuh roti, butuh makanan, kok dijawab “Bukan hanya roti, tapi juga Firman.” Makanan dan Firman kan masalah yang berbeda? Di mana itu titik temunya, bukan hanya makanan tapi juga Firman?

 

Saudara – saudara….

Kang Karso hanyut dalam pikiran-pikiran yang membingungkan. Akhirnya, Kang Karso-pun ketiduran. Dalam tidurnya Kang Karso bermimpi; ia melihat roti bertumpuk-tumpuk ada di ladangnya. Sejauh mata memandang, batu-batu yang ada semua sudah berubah menjadi roti. Ladangnya tidak lagi sebagai ‘lahan berbatu’ tetapi telah menjadi ‘lahan penuh roti’. Melihat semua itu, Kang Karso jadi terpana, kagum. Betapa tidak, Tuhan telah menjawab permohonannya. Tetapi tiba-tiba Kang Karso menjadi takut. Ia cemas, jangan-jangan semua batu telah berubah menjadi roti. Batu sudah tidah adalagi, yang ada hanyalah roti. Bagaimana nanti jalan-jalan raya, gedung-gedung bertingkat, kalau batu-batunya telah berubah menjadi roti?

“celaka! Sungguh celaka, jika semua batu menjadi roti.” Seru Kang Karso. Tiba – tiba Kang Karso tersadar akan kekeliruanya dalam berdoa. Maka dengan menengadah kelangit, Kang Karso-pun berdoa kepada Tuhan Semesta Alam. Katanya “Ampun Tuhan! Ampuni kebodohan doaku. Sekarang biarlah batu tetap batu, Engkau tak perlu mengubahnya menjadi roti.”

Ledakan petir yang disertai rintik-rintik hujan membangunkan Kang Karso dari mimpinya. Ia melihat awan hitam bergulung-gulung, kilat menyambar-nyambar, hujan lebat akan segera tiba. Kang Karso bangkit dari tidurnya, memandang batu yang bertumpuk-tumpuk lalu meringis tertawa sendiri. Sambil beranjak pulang ia pun berbisik, “BIARLAH BATU TETAP BATU, TAK PERLU BERUBAH MENJADI ROTI.” Kalimat itu diucapkan perlahan-lahan berulang-ulang sepanjang perjalananya pulang.

 

Saudara saudara….

Kang Karso telah mengalami pencerahan budi. Ia memang tetap mengusahakan ‘lahan berbatu’, tetapi dengan hati dan pikiran yang baru. Batu-batu tidak lagi dirasa mengganggu, bahkan ia menyukai ladangnya yang banyak mengandung batu. Konon kabar terakhir; orang menyebut Kang Karso sebagai juragan batu daerah itu.

 

Mengubah batu menjadi roti memang tidak perlu dilakukan. Kang Karso insaf betul bagaimana resikonya jika batu berubah menjadi roti. Menurut pengalaman Kang Karso, bukan mengubah batu yang perlu, tetapi mengelola batu dengan baik. Dengan kemampuannya mengelola batu-batu di ‘lahan berbatu’ telah terbukti membawa Kang Karso keluar dari kemiskinan.

 

Kerasnya persoalan-persoalan kehidupan kita, tidak perlu kita perlunak. Kita tidak perlu mengubah persoalan, betepapun kerasnya persoalan itu harus kita hadapi. Yang kita butuhkan adalah pencerahan budi, sehingga kita mampu menghadapi persoalan dengan hati dan pikiran yang baru. Dengan demikian kitapun memiliki semangat dan kekuatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masadepan. Dan kita telah diberi pencerahan oleh Tuhan Yesus denga Firman-Nya, “BUKAN HANYA MAKANAN TETAPI JUGA FIRMAN YANG MENGHIDUPI MANUSIA.” Amin.

 

Share

Facebook Status "Apa Yang Anda Pikirkan?"