Mengandalkan Allah
BACAAN ALKITAB: YOSUA 3 : 1-17
Saudara-saudara yang kekasih
Peristiwa yang diceritakan dalam Yosua 3:1-17 menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan Allah memimpin bangsa Israel, umat-Nya. Kita menyaksikan bahwa dalam perjalanan bangsa Israel menuju tanah yang dijanjikan Tuhan Allah, mereka harus menempuh berbagai-bagai kesulitan. Tuhan Allah tidak memimpin di jalur yang mudah dan cepat sampai, tetapi jalan yang sulit dan berhadapan dengan rupa-rupa bahaya. Tetapi dalam hal ini, setiap kali dinyatakan kepada bangsa Israel bahwa Tuhan Allah selalu setia melindungi dan menolong bangsa Israel bila berhadapan dengan bahaya ataupun kesulitan. Karena itu, yang dibutuhkan dari bangsa Israel adalah kepercayaan dan ketaatan mereka kepada Tuhan Allah.
Sungai Yordan merupakan penghalang yang menghambat perjalanan bangsa Israel. Tetapi hambatan itu bisa diatasi dengan kepercayaan dan ketaatan bangsa Israel kepada Tuhan Allah. Diceritakan bahwa atas petunjuk dari Tuhan, Yosua memerintahkan rombongan bangsa Israel untuk menyeberangi sungai Yordan. Para imam yang membawa Tabut Perjanjian lebih dahulu masuk ke dalam sungai, baru kemudian disusul oleh rombongan bangsa Israel. Tuhan Allah menggunakan Para Imam dengan Tabut Perjanjian yang diangkutnya itu, sebagai sarana untuk menghentikan aliran sungai Yordan. Air seperti terbendung di bagian hulu sungai, sehingga rombongan bangsa Israel dapat menyeberang dengan mudah seperti berjalan di daratan yang kering. Dan akhirnya kesulitan dalam menyeberangi sungai Yordan itupun teratasi, karena pertolongan Tuhan.
Jemaat Tuhan Yesus yang kekasih
Sungai Yordan yang dihadapi oleh bangsa Israel adalah gambaran kesulitan-kesulitan yang harus kita hadapi dalam perjalanan hidup ini. Bagaimanakah sikap kita dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ? Kita bisa mengelak, menghindar dari kesulitan dan berhenti berusaha, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar orang pada umumnya. Sebab ada banyak orang yang lebih suka berhenti berusaha , ketika berhadapan dengan kesulitan. Ada banyak orang yang lebih suka mengeluh dan menggerutu ketika berhadapan dengan masalah. Tetapi, sebagai orang beriman, pantaskah kita jika bersikap seperti itu?
Kang Parmin punya cita-cita luhur. Ia ingin agar anaknya kelak bisa menjadi seorang dokter. Anaknya pun disekolahkan. Tetapi Kang Parmin merasa kesulitan untuk membiayai anaknya sekolah. Maklumlah, biaya sekolah mahal. Sehingga Kang Parmin merasa tidak sanggup membiayai anaknya untuk melanjutkan sekolah. Dan akhirnya, anaknya pun disuruhnya berhenti. Anak Kang Parmin marah, karena cita-citanya tidak kesampaian. Kehidupan keluarga Kang Parmin menjadi tegang, suasana marah dan saling menyalahkan mudah sekali terjadi. Kesulitan biaya sekolah tidak dirasakan lagi, tetapi kesulitan dan masalah baru terjadi. Demikianlah yang terjadi, kesulitan bisa dihindari, tetapi selalu disusul oleh kesulitan atau masalah baru yang terjadi.
Sebagai orang beriman, kita pun tidak pernah lepas dari kesulitan. Semua orang , tak terkecuali selalu dan selalu akan berhadapan dengan masalah dan kesulitan. Hanya saja, sebagai orang beriman kita punya cara dan sikap yang berbeda dengan kebanyakan orang. Orang beriman menggunakan imannya kepada Tuhan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dalam perjalanan hidupnya. Sebagaimana bangsa Israel perlu menyeberangi sungai Yordan, kita sebagai orang beriman juga perlu menempuh kesulitan-kesulitan dalam perjalanan hidup kita. Kesulitan tidak bisa dihindari, tetapi harus dijalani, dihadapi dengan iman.
Saudara-saudara yang kekasih dalam Kristus
Ada tiga hal penting yang perlu kita ingat dan terapkan, sehubungan dengan firman Tuhan yang terdapat dalam Yosua 3: 1-17, yaitu :
1. Kesulitan dalam hidup ini merupakan kenyataan yang harus dihadapi
Bangsa Israel harus berhadapan dengan sungai Yordan. Mereka bisa saja tidak menyeberangi sungai Yordan, tetapi mereka pasti menghadapi kesulitan lainnya. Karena itu mereka harus menerima kenyataan dan memutuskan untuk mengikuti kehendak Allah, yaitu menyeberangi sungai Yordan.
Demikian juga halnya dengan kita; kita harus berhadapan dengan kesulitan. Kita bisa saja menghindari kesulitan yang satu, tetapi kita pasti akan menghadapi kesulitan lainnya. Karena itu kita harus menerima kenyataan, bersikap realistis, dan berani memutuskan untuk mengikuti kehendak Allah , yaitu rela menghadapi kesulitan demi kesulitan dalam perjalanan hidup kita.
2. Tuhan Allah senantiasa setia menyertai umat-Nya
Para pemimpin bangsa Israel, Yosua dan para imam, mempunyai peran untuk meyakinkan umat Allah akan kesetiaan Allah dalam menyertai umat-Nya. Bangsa Israel disuruh untuk mengikuti para imam yang mengangkut Tabut Perjanjian. Mereka diajak untuk mengarahkan perhatian bukan pada bahaya dan kesulitan, tetapi kepada janji Allah. Dengan memandang Tabut Perjanjian , dengan berjalan mengikuti para imam, bangsa Israel mengarahkan pengharapan mereka kepada Tuhan Allah. Sehingga mereka mengalami bahwa sungai Yordan terbendung, dan mereka menyeberangi sungai Yordan seperti berjalan di daratan yang kering. Mereka merasakan pertolongan Tuhan dan kesulitan yang dihadapi menjadi terasa ringan. Sebab mereka berharap kepada Tuhan dan mengandalkan pertolongan Tuhan.
Adalah juga menjadi peran Majelis Jemaat untuk senantiasa berusaha meyakinkan segenap warga jemaat akan kesetiaan Tuhan Allah. Untuk itu, Majelis Jemaat, harus bisa diikuti, diteladani, dalam berharap kepada Allah dan mengandalkan pertolongan-Nya. Dalam berhadapan dengan setiap kesulitan atau masalah, kita harus mengarahkan perhatian kita kepada janji-janji Allah. Marilah, kita percaya bahwa Tuhan Allah senantiasa setia menyertai kita. Jika kita berharap kepada Tuhan Allah dan mengandalkan pertolongan-Nya, maka kesulitan sebesar apapun dan masalah sesulit apapun akan dapat kita hadapi dan selesaikan dengan ringan hati. Percayalah, Tuhan pasti menolong kita dalam setiap kesulitan yang kita hadapi.
3. Mengandalkan Tuhan Allah menjadikan kita berani menghadapi masalah dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.
Ketika bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan, mereka mengalami keajaiban; aliran air sungai Yordan terputus, air yang berasal dari hulu sungai berhenti mengalir, sampai semua orang Israel berhasil menyeberang. Sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin menjadi mungkin. Apa yang tidak diduga-duga, ternyata terjadi di depan mata.
Kita juga harus mengandalkan Tuhan Allah. Kalau kita mengandalkan Tuhan Allah, kita memiliki keberanian untuk menghadapi sertiap masalah yang kita temui. Dan jika kita berani menerobos menembus kesulitan atau masalah-masalah itu, kita akan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Kita akan mengalami keajaiban. Yang tadinya Nampak tidak mungkin ternyata terjadi.
Jemaat Tuhan yang kekasih
Kita tahu, kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah berat menghadang perjalanan hidup kita bergereja. Kadang kita merasa begitu dalam tenggelam dalam lautan persoalan dan merasa tidak berdaya untuk berenang ke tepian. Kadang kita seperti berdiri termangu di tepian sungai Yordan. Ada juga diantara kita yang merasakan beban hidup ini begitu berat menekan, dan hampir putus asa untuk bertahan.
Melalui pemberitaan Firman Allah kali ini, marilah kita bangkit. Mari kita buang ilusi yang menipu kita, seakan ada kehidupan tanpa kesulitan dan masalah. Mari kita terima kenyataan, bahwa kesulitan dan masalah adalah bagian kehidupan kita, yang tidak boleh tidak harus kita jalani. Mari kita yakini janji-janji Allah. Mari kita andalkan pertolongan Tuhan Allah. Mari kita hadapi masalah dan kesulitan dengan berani. Mari kita temukan keajaiban karena pertolongan Tuhan. Dan akhirnya, marilah kita jalani kehidupan ini dengan gembira apapun masalah dan kesulitan yang kita hadapi. Karena kita tahu dan percaya bahwa Tuhan Allah sungguh setia menyertai perjalanan hidup kita. Tuhan kita Yesus Kristus bersabda,” Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
AMIN


