MENGAPA GKSBS SUMBERHADI PEDULI PERTANIAN ORGANIK
Gerakan Pertanian Organik Berbasis Potensi Dan Sumberdaya Lokal
Oleh: Dkn. Sugianto[1]
Perih kehidupan kaum tani
Revolusi Hijau yang digerakkan akhir 1969 oleh rezim Orde Baru memang telah memberikan dampak luar biasa pada produksi beras nasional. Tetapi setelah berjalan beberapa tahun, gerakan yang dirancang untuk mensejahterakan kaum tani telah menampakkan sisi-sisi negative yang sangat mendasar pada sector agraria, diantaranya:
a. Menurunnya – bahkan – rusaknya kualitas tanah dan air sebagai media paling pokok dalam kehidupan pertanian. Penggunaan pupuk kimia, pestisida/insektisida kimia dan herbisida kimia menyebabkan struktur dan pH tanah serta kualitas air berubah.
b. Hancurnya ekosistem pertanian. Predator hama dan penyakit tanaman banyak yang mati dan punah akibat pemakaian pestisida/insektsida dan herbisida kimiawi. Akibatnya beberapa jenis hama dan penyakit mengalami ledakan populasi dalam tingkat yang tak terkendalikan. Bahkan ditengarai beberapa jenis hama telah bermutasi sehingga memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang telah tercemar dengan bahan-bahan kimia.
c. Hancurnya kearifan budaya lokal yang berkaitan dengan teknologi budidaya, modal social, keanekaragaman hayati. Petani lambat laun kehilangan kemampuannya menyadari pentingnya menguasai dan membuat benih. Proses bertani yang semula sarat dengan nilai-nilai social telah berubah menjadi kegiatan yang penuh dengan kalkulasi bisnis. Pranata-pranata social yang dianggap tidak produktif secara ekonomis perlahan-lahan hilang dari peradaban kaum tani.
d. Dan oleh karena hal-hal diatas, kaum tani hidupnya menjadi semakin tergantung dengan pemodal yang menguasai industry pertanian. Kehilangan kemampuan membuat pupuk telah membuat kaum tani tergantung dengan perusahaan pupuk. Kehilangan kemampuan petani membuat bibit telah membuat kaum tani tergantung dengan perusahaan bibit. Kehilangan kemampuan petani mengendalikan hama dan penyakit telah membuat kaum tani tergantung dengan perusahaan pestisida/insektisida dan herbisida. Kehilangan watak dan nilai-nilai social dalam kegiatan pertanian membuat kaum tani harus menghadapi semuanya seorang diri, sebab kegiatan pertanian telah berubah menjadi kegiatan bisnis semata.
Ketergantungan kaum tani terhadap pemodal (kaum kapitalis) yang menguasai industry dan pasar pertanian telah menyebabkan:
a. Rendahnya margin keuntungan usaha tani. Hal ini disebabkan semakin tingginya biaya untuk asupan produksi pertanian. Kebutuhan pupuk dan obat-obatan baik dari segi jenis maupun volume terus meningkat karena hancurnya kualitas tanah dan air serta ekosistem pertanian. Sementara kebijakan negara dalam bidang pertanian tidak pernah berpihak pada kaum tani. Kebijakan impor produk-produk pertanian dengan subsidi bea impor telah menghancurkan harga komoditas pertanian – khususnya pangan dan biji-bijian. Akibatnya usaha tani semakin tidak menguntungkan. Petani semakin hari semakin miskin.
b. Pemindahan penguasaan asset. Kebrangkutan usaha tani telah mendesak petani untuk menjual tanah-tanah pertanian dan perkebunan mereka kepada para pemodal – yang segera merubah posisi petani dari pekerja yang mandiri berubah menjadi buruh upahan.
c. Lemahnya akses kaum tani terhadap kekuasaan. Baik orang karena hilangnya nilai-nilai social dalam kegiatan pertanian maupun oleh karena penjinakan kaum tani dalam wadah-wadah organisasi semu yang dibangun oleh penguasa, kaum tani – sebagai populasi terbesar dari penduduk republic ini – tidak memiliki akses dalam penentuan kebijakan public – bahkan – yang berkaitan dengan nasib kaum tani sendiri.
Jika diletakkan dalam konteks peta kekuatan-kekuatan global, nampak dengan jelas bahwa kondisi yang dialami oleh kaum tani di negeri ini merupakan hasil pengkondisian yang bersifat sistematis. Perusahaan-perusahaan multi-nasional – seperti Monsanto, Dupont, Novartis, Bayern – dengan ketergantungan kaum tani telah menangguk keuntungan jutaan dolar dari para petani Indonesia. Tentu tidak ada angka yang pasti berapa keuntungan perusahaan-perusahaan multi-nasional itu. Tetapi keberanian Monsanto menyuap pejabat-pejabat RI dalam kasus bibit-bibit transgenic yang mencapai 750.000 dolar AS (Kompas, 13 Januari 2005) atau angka penjualan Monsanto (2004) yang mencapai 5,457 miliar dolar AS. Oleh kekuatan uang yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan multi-nasional, para penyelenggara negara, mulai dari pejabat tinggi sampai dengan tenaga penyuluh lapangan telah dirobah perannya dari pemberdaya masyarakat menjadi agen produk-produk saprotan hasil pabrikan. Sementara melalui mekanisme World Trade Organization (WTO/Organisasi Perdagangan Dunia) – sebuah organisasi yang dibentuk untuk melayani kepntingan kaum pemodal pengendalian harga produk kaum tani dilakukan dengan pemberlakuan system perdagangan bebas, baik di tingkat regional (multilateral) maupun bilateral – seperti AFTA (Asean Free Trade Area), ACFTA (Asean-China Free Trade Area).
Nampak jelas bahwa Revolusi Hijau dan kemelaratan kaum tani di negeri ini merupakan bagian yang sistematis dari gerakan globalisasi – yang makna dasarnya adalah globalisasi kekuatan modal (kapitalisme). Maka Revolusi Hijau yang digerakkan pada akhir 1969-an tidak lain adalah globalisasi dalam bidang pertanian.
Relevansi isu pertanian organic bagi GKSBS Sumberhadi
Ada dua keprihatinan mendasar akibat dari globalisasi pertanian yang harus dilihat oleh gereja sebagai pembawa misi Injil Kerajaan Allah. Pertama, globalisasi pertanian telah menimbulkan kerusakan alam yang berlanjut pada teracuninya hasil-hasil alam yang dikonsumsi manusia. Penerapan pertanian yang berbasiskan bahan kimia telah menghancurkan keseimbangan ekosistem agraria. Sementara sebagai pembawa misi Injil Kerajaan Allah, gereja harus menghadirkan tanda-tanda keselamatan itu di muka bumi ini. Kedua, globalisasi pertanian telah melahirkan relasi yang tidak adil, yang eksploitatif antara kaum tani dengan kaum pemodal. Kaum tani menjadi terpinggirkan oleh system yang tidak adil. Sementara sebagai pembawa misi Injil Kerajaan Allah, gereja harus mewujudkan relasi yang adil, yang setara diantara umat manusia.
Oleh karena mandat ilahinya, gereja harus memberikan tanggapan yang memadai atas kondisi yang dialami oleh kaum tani di negeri ini.
GKSBS Sumberhadi telah berkomitmen untuk menjadi “Gereja Para Pelayan”. Makna yang terkandung dalam semangat ini adalah – GKSBS Sumberhadi hendak menjadikan dirinya sebagai gerakan pelayanan dengan menggerakkan seluruh warga jemaat dan kekuatan komunitas GKSBS Sumberhadi sebagai pelayan. Oleh karena itu GKSBS Sumberhadi selalu berusaha memanfaatkan semua potensi dan peluang yang ada untuk mewujudkan panggilan hidupnya sebagai pelayan untuk mewujudkan Injil Kerajaan Allah di muka bumi ini. Dalam hal ini GKSBS Sumberhadi melihat bahwa isu pertanian organic pada satu sisi bisa menjadi celah dan sarana untuk mweujudkan struktur yang adil dalam bidang agrarian dan kelestarian alam pada sisi yang lainnya.
Bagaimana strateginya
Sesuai dengan tingkat persoalannya, usaha memperbaiki keadaan yang dialami oleh kaum tani haruslah bersifat struktural. Artinya usaha perbaikan yang dilakukan haruslah berupa perbaikan struktur atau relasi social dan system yang lebih adil. Dan jika perjuangannya adalah dalam rangka menciptakan struktur dan system yang baik dan adil, maka memberdayakan kaum tani agar memiliki kekuatan dan posisi tawar yang kuat adalah pilihan yang niscaya. Dan dalam konteks usaha membangun kekuatan kaum tani inilah GERAKAN PERTANIAN ORGANIK YANG BERBASISKAN POTENSI DAN SUMBERDAYA LOKAL KAUM TANI menjadi pilihan strategis.
Dengan GERAKAN PERTANIAN ORGANIK YANG BERBASISKAN POTENSI DAN SUMBERDAYA LOKAL KAUM TANI kaum tani diberdayakan untuk lebih mandiri dari ketergantungan kekuatan modal (kapitalisme). Dan pada gilirannya, kemandirian kaum tani akan menjadi energy militan untuk menciptakan perubahan struktur yang adil oleh dan untuk kaum tani sendiri. Maka bagi GKSBS Sumberhadi mendidik kader-kader petani organic yang menguasai teknologi pertanian organic dan paham konteks persoalan pertanian serta memiliki visi perubahan pada dunia yang damai dan berkeadilan menjadi pilihan dan tepat dan strategis.
***
Gunung Sulah, Akhir Maret 2011
[1] Dkn. Sugianto adalah warga GKSBS Sumberhadi dan menjadi konsultan capacity building IKATAN PELOPOR PERTANIAN ORGANIK LAMPUNG.



Facebook Comment
Share to Facebook