GKSBS Sumberhadi

Home Refleksi GEREJA ADALAH WADAH BAGI ORANG YANG INGIN BERBUAT BAIK

GEREJA ADALAH WADAH BAGI ORANG YANG INGIN BERBUAT BAIK

Mendialogkan Pemahaman Gereja Sebagai Komunitas Orang Kudus

Oleh: Dkn. Sugianto[1]

Ada gejala bahwa jemaat-jemaat GKSBS cenderung hidup membenamkan diri dalam kegiatan-kegiatan ritual. Keprihatinan terhadap masalah-masalah social tidak pernah masuk dalam agenda diskusi gereja. Anggaran gereja terserap untuk kegiatan-kegiatan perayaan dan rutin. Program-program gereja hanya untuk melayani warga jemaat. Ada beberapa gereja yang berusaha membuat program – yang dimaksudkan – untuk merespon masalah-masalah social yang ada di sekitar gereja, tetapi nampak dilakukan asal-asalan, latah dengan trend yang berkembang dan tanpa kesadaran yang jelas. Padahal MPS GKSBS dan para pemikir di Sinode GKSBS – kelihatannya – tidak pernah berhenti berkampanye melalui berbagai media untuk mendorong agar jemaat-jemaat GKSBS menjadi gereja yang peduli dengan masalah-masalah social yang ada di sekitarnya. Dimanakah sumber masalahnya?


Gereja sebagai komunitas orang kudus

Menurut doktrin yang kita warisi disebutkan bahwa gereja kumpulan atau komunitas dari orang-orang yang sudah diselamatkan atau sudah ditebus dan dikuduskan. Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, maka warga gereja harus memperlihatkan ciri hidup yang sudah diselamatkan.

Sebagai gereja Kalvinis, pemahaman dan kesadaran diatas merupakan warisan dari pemahaman Calvin. Dalam buku Institutio edisi Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan bahwa Calvin memiliki kecenderungan yang kuat memahami gereja sebagai komunitas yang tertutup. Para pejabat gereja memiliki tugas pokok untuk mendidik dan mengawasi perilaku warga jemaat agar sesuai dengan watak dari komunitas yang sudah dikuduskan. Maka hal memberi sanksi (hukuman) bagi warga jemaat yang perilakunya “tidak sesuai” menjadi sangat penting dalam gereja pengikut Calvin.

Cara dan watak menggereja seperti di atas juga nampak dalam perkembangan awal jemaat-jemaat GKSBS. Pdt. Joko Sudomo – pada suatu saat menceritakan – di sebuah jemaat pada tahun 1960-an ada warga jemaat dikenakan disiplin gereja atau penggembalaan khusus karena hari Minggu bekerja menjemur padi atau berdagang di pasar.

Gereja yang ketakutan

Pada era Orde Baru, gereja-gereja banyak yang tiarap ketika menyaksikan ketidakadilan dan pelanggaran HAM karena takut dengan penguasa. Warga gereja yang menjadi aktivis kemanusiaan, demokratisasi dinilai sebagai sembrono dan membahayakan gereja. Dan ketika rezim Orde Baru tumbang dan datang era reformasi, era keterbukaan, era demokratisasi, gereja-gereja juga tetap ketakutan terhadap kemungkinan gesekan dengan kelompok-kelompok garis keras. Lalu gereja memilih untuk mengarahkan hidup “ke dalam”, membenamkan diri dalam kegiatan ritual.

Ketakutan itu kemudian juga menyuburkan sikap mencari aman secara keliru. Beberapa tokoh gereja berusaha memanfaatkan dinamika politik lokal dengan cara mendekati atau mendekatkan diri kepada pejabat atau tokoh-tokoh politik. Beberapa kali penulis mendengar langsung dari tokoh-tokoh gereja yang melakukan itu mengenai alasan dari tindakannya. Ada 2 alasan yang sering diungkapkan. Pertama, kedekatan dengan pejabat pemerintah atau politik bisa memperluas akses gereja dalam mendapatkan bantuan. Kedua, kedekatan dengan pejabat pemerintah atau politik akan membuat posisi gereja lebih aman.

Baik alasan yang pertama maupun yang kedua menegaskan bahwa arah menggereja jemaat-jemaat atau paling tidak tokoh-tokoh GKSBS adalah mencari aman, mencari selamat. Padahal gereja adalah kumpulan dari orang yang sudah diselamatkan.

Perubahan kesadaran

Bagaimana agar jemaat-jemaat GKSBS benar-benar mampu hadir sebagai pembawa Injil Kerajaan Allah ke dalam dunia dan bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri? Perlu ada kesadaran baru yang dibangun bahwa gereja adalah wadah bagi warga jemaat untuk melakukan kebaikan, entah dia berdosa atau tidak berdosa. Mata gereja dan pejabat gereja tidak diarahkan untuk mencari warga yang berdosa, melainkan diarahkan pada penciptaan peluang-peluang bagi warga gereja untuk melakukan kebaikan-kebaikan berdasarkan pada talenta-talenta yang dimiliki oleh warga jemaat. Koruptor, pemeras buruh, pemeras petani, rentenir, pencuri, pezinah, pemitnah, penjudi, pemabuk dan warga yang baik-baik diberi kesempatan untuk bekerjasama mewujudkan kebaikan-kebaikan yang paling mungkin untuk bisa dilakukan. Mengapa gagasan ini layak dipertimbangkan? Kitab suci banyak memberikan contoh dan bukti bahwa bahwa hanya kebaikan yang bisa mendatangkan perubahan yang baik. Hanya kebaikan yang bisa menuntun orang untuk berubah dan berkembang menjadi baik. Orang tidak berubah oleh hukuman dan hal-hal yang tidak baik.

***

Metro, Awal April 2011

 


[1] Warga GKSBS Sumberhadi

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Facebook Comment

Share to Facebook

Share

Pencarian
Ayat Hari Ini
Who's Online
We have 5 guests online
Please Login or Created Acount



Facebook Status "Apa Yang Anda Pikirkan?"