PAk Cip Pelayan Kaum Tani
Pak Cip, begitulah panggilan akrabnya, merupakan sosok tokoh pelayan di GKSBS yang disukai banyak orang. Orang yang berpenampilan sederhana dan bersahaja ini mempunyai banyak kawan dan penulis merasa bersyukur karena bisa berkawan dengan Pak Cip.
Nama lengkapnya adalah Sucipto, lahir di Gunung Kidul-Yogyakarta, 22 Desember 1947. Riwayat pendidikannya Tamat SR 1960 di desa Baran, Tamat SMP-Bopkri Wonosari 1963, melanjutkan ke SMA Bopkri Wonosari, tamat tahun 1966. Selanjutnya belajar ilmu keguruan dan pendidikan di IKIP-Veteran Wonosari (setara D3) tamat tahun 1979.
Pak Cip sejak mudanya memang orang yang mempunyai kegemaran bertani. Ia bercita-cita jadi petani, yaitu petani yang maju dan bermartabat. Sebab menurut beliau, ada banyak orang yang jadi petani karena terpaksa. Banyak orang yang bertani dengan perasaan rendah diri. Sehingga di negeri Indonesia yang subur ini banyak rakyat yang jadi pengangguran.
Pak Cip, yang pernah menjabat sebagai pengurus Sertani (Serikat Tani Indonesia) itu, berkali-kali dan terusmenerus menganjurkan kepada para petani bahwa bertani itu pekerjaan mulia. Menjadi petani itu menjadi orang yang berguna-manfaat bagi banyak orang. Dengan mengolah alam pertanian, para kaum tani menyediakan kebutuhan pokok kehidupan umat manusia. Bahan pangan, sandang maupun perumahan adalah bahan-bahan yang disediakan oleh para kaum tani.
Melihat kenyataan kemiskinan dan keterbelakangan kaum tani di lahan yang subur daerah Marga Tiga – kecamatan Sukadana pada tahun 1982, ketika itu ia sedang mengunjungi saudaranya yang tinggal di daerah itu, beliau kemudian memutuskan untuk pindah dari Gunung Kidul ke Lampung. Pak Cip pindah bersama isteri dan anak-anaknya dan menetap di desa Sukaraja kecamatan Marga Tiga (dulu kecamatan Sukadana).
Pilihan Pak Cip bukan terutama bekerja sebagai petani, tetapi bekerja sebagai guru bagi anak-anak para petani. Sebab ia melihat bahwa ada banyak anak-anak petani yang mengalami kesulitan dalam pendidikan dan pengajaran. Pak Cip mulai dengan menjadi Guru SD honorer di SD Negeri Sukaraja. Selanjutnya Pak Cip melihat ada kebutuhan pendirian SMP untuk menampung anak-anak tamatan SD di desa-desa yang jauh dari SMP Negeri. Maka didirikanlah SMP PGRI dan selanjutnya juga SMA PGRI bersama-sama dengan kawan Guru lainnya yang sependapat. Di sela-sela kesibukannya sebagai Guru itu, Pak Cip juga membina beberapa kelompok tani dan terlibat dalam pendirian Koperasi Unit Desa (KUD) Sukorejo di Mlaris. Sejak semula bekerja di bidang pendidikan memang merupakan pilihan berdasarkan kebutuhan karena kelangkaan tenaga guru pada waktu itu. Maka ketika para guru yang baru sudah banyak, Pak Cip meninggalkan pekerjaannya sebagai Guru tersebut pada tahun 1994.
Pak Cip kembali menekuni bidang pertanian dan membina beberapa kelompok tani. Pada tahun 1994 itu juga beliau diminta oleh WVI (World Vision Indonesia) sebuah lembaga sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat, untuk menjadi tenaga motivator bagi kelompok-kelompok binaan WVI. Maka mulai saat itu, Pak Cip menjadi lebih banyak bisa mencurahkan pikiran, tenaga dan waktunya untuk pelayanan kaum tani. Bersamaan dengan itu , beliau juga mulai aktif sebagai anggota majelis jemaat di GKSBS Jaya Guna.
Pak Cip menyadari akan pentingnya organisasi untuk mewujudkan cita-cita bersama kaum tani. Hal mendasar yang membuat posisi kaum tani di Indonesia ini sangat lemah dalam perebutan sumber-sumber ekonomi adalah karena para kaum tani belum terorganisir dengan baik. Kalaulah ada kelompok-kelompok tani, kelompok-kelompok tersebut tidak terhubung satu dengan yang lainnya. Kelompok-kelompok tani cenderung dibuat bersaingan satu dengan yang lain dan bergerak sendiri-sendiri tanpa arah tujuan yang jelas dan tidak memiliki strategi perjuangan yang jelas. Karena itu, kalaulah Negara Indonesia ini mayoritas penduduknya adalah kaum tani, tetapi kaum tani tetap saja tidak bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan penguasa. Kaum tani hanya sering dipakai alasan dan jadi alat perjuangan segelintir orang dalam meraih kepentingan pribadinya.
Menurut Pak Cip, para kaum tani di Indonesia membutuhkan organisasi kaum tani yang kuat. Untuk itu para kaum tani harus mengetahui masalah-masalah hukum dan politik, masalah ekonomi dan manajemen, sehingga mempunyai kekuatan dalam memperjuangkan nasib kaum tani. Sehubungan dengan itu, Pak Cip menyambut baik dan sangat mendukung pendirian organisasi-organisasi kaum tani. Beliau berpartisipasi dalam pendirian Serikat Tani Indonesia (SERTANI) pada tahun 1998 dan dipercaya untuk menjadi pengurusnya.
Sebagai pengurus Sertani, Pak Cip bekerja-sama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) guna perjuangan pembinaan dan pembelaan hak-hak kaum tani. Hal yang terlihat sebagai buah perjuangan itu adalah penyerahan lahan pertanian kepada para petani dari sekelompok oknum pejabat militer. Sertifikasi tanah pada lahan-lahan yang telah dikuasai oleh petani , terutama lahan-lahan yang rentan sengketa.
Sangat disayangkan bahwa begitu banyak kegiatan pelayanan kepada masyarakat yang dilakukan oleh Pak Cip itu tidak mempengaruhi kebijakan majelis GKSBS Jaya Guna dalam mengembangkan program pelayanan. Apa yang dilakukan oleh Pak Cip tidak menjadi milik jemaat, karena itu dianggap bukan pelayanan Gereja, tetapi pelayanan pribadi. Alangkah baiknya, jika kerja-kerja pelayanan masyarakat yang sebagaimana dilakukan oleh Pak Cip itu diakui sebagai karya Gereja. Sehingga kalaulah Pak Cip meninggal, pelayanan Pak Cip masih bisa terus berlangsung. Selalu ada Pak Cip-Pak Cip yang baru, yang melanjutkan perjuangan Pak Cip.
Ketika penulis bertanya, apa motivasi atau yang mendorong Pak Cip melakukan pelayanan, beliau berkata: “Hidupku ini bukan milikku, tetapi milik Tuhan. Sebagai milik Tuhan, saya harus menjadi saluran berkat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Semakin banyak orang yang bisa menerima layanan saya, saya merasa hidup saya semakin berarti.”
Selanjutnya Pak Cip berkata, ”Para kaum tani harus bisa hidup berkecukupan dan bisa hidup dengan guyup rukun bersama-sama. Saya berpesan buat generasi penerus: sebisa mungkin berusahalah untuk menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi banyak orang.”
Pak Cip memang sudah tua (64 tahun) tapi semangat beliau masih menyala, saat ini beliau sedang sibuk berkampanye mengenai pentingnya pertanian organik, demi keselamatan umat manusia. Tertarik untuk mengikuti jejak Pak Cip ??? Semoga selalu ada Pak Cip yang baru yang peduli dan serius melayani kaum tani.



Facebook Comment
Share to Facebook