GKSBS Sumberhadi

Home Khotbah DIAKONIA YANG KONTEKSTUAL

DIAKONIA YANG KONTEKSTUAL

Lukas 12:54-56

Hal menilai zaman

Pada umumnya orang mempunyai kesadaran akan tahapan-tahapan waktu. Kita sudah biasa memahami kehidupan dengan menetapkan waktu dalam tiga (3) masa, yaitu: masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa kini, yaitu masa yang sedang berlangsung dan sedang kita alami, merupakan masa yang digunakan untuk melihat masa lalu maupun masa depan. Sehingga bagaimanapun masa kini merupakan masa yang paling berarti dan paling menentukan makna kehidupan manusia. Akan tetapi untuk menilai bagaimanakah masa kini, kita selalu menengok masa lalu. Dalam hal inilah sejarah masa lalu mempunyai arti yang penting, yaitu bisa digunakan untuk menilai masa kini. Yang selanjutnya bisa digunakan untuk merencanakan masa depan.

Dalam Lukas 12:54-56, Tuhan Yesus menyatakan pentingnya menilai zaman. Menilai zaman dihubungkan dengan sikap tanggap terhadap perubahan situasi. Atau dengan kata lain, Tuhan Yesus menghendaki agar orang-orang mau mengamati perubahan-perubahan yang sedang berlangsung sebagaimana orang mengamati perubahan cuaca, hari akan turun hujan atau akan panas terik. Dengan mengamati perubahan situasi, kita akan menemukan arus kekuatan kecenderungan perubahan. Kecenderungan perubahan masyarakat akan menuju ke arah mana, dapat kita lihat dengan cara membandingkan peristiwa-peristiwa secara berurutan dengan memakai hukum sebab-akibat.

Menilai zaman berarti melakukan pengamatan akan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kini, kemudian mencari penyebabnya pada masa lalu, dan selanjutnya berusaha memperkirakan apa yang terjadi selanjutnya di masa depan. Memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan menolong orang untuk mempersiapkan diri dengan membuat rencana-rencana tindakan yang sesuai yaitu rencana yang strategis. Seperti sebuah pepatah: sedia payung sebelum hujan.

Meyakini Allah yang bertindak dalam sejarah

Sebagai orang yang beriman kita perlu menilai zaman untuk memahami kehendak Allah. Kita meyakini Allah yang bertindak dalam sejarah. Kita yakin bahwa Allah selalu berada di balik peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu, juga peristiwa yang sedang berlangsung masa kini dan yang akan terjadi di masa depan. Keyakinan kepada Allah yang bertindak dalam sejarah itu mengharuskan kita untuk menilai zaman, sehingga kita bisa menemukan kehendak Allah bagi kita. Dan selanjutnya bisa turut serta mengerjakan misi Allah.

Pelaksanaan misi Allah yang dikerjakan dengan mempertimbangkan perubahan situasi itu disebut Diakonia yang kontekstual. Melaksanakan diakonia yang kontekstual merupakan pilihan gereja kita. Karena diakonia yang kontekstual adalah pilihan yang didasarkan pada kehendak Tuhan Yesus. Tetapi bagaimanakah diakonia yang kontekstual itu?

Diakonia yang kontekstual itu memiliki tujuan yang disesuaikan dengan perubahan situasi. Diakonia yang kontekstual itu dilaksanakan dengan strategi yang disesuaikan dengan keunggulan gereja kita. Dan Diakonia yang kontekstual itu mulai dengan apa yang sudah berjalan baik dalam jemaat maupun masyarakat.

Tujuan yang disesuaikan dengan perubahan situasi

Tujuan program diakonia ditetapkan berdasarkan masalah-masalah yang berlangsung dalam masyarakat. Itu berarti, jika masyarakat mengalami perubahan, maka tujuan diakonia juga disesuaikan dengan perubahan tersebut. Misalnya, diakonia di bidang pendidikan dulu bertujuan mendirikan sekolah-sekolah kristen. Tetapi sekarang fasilitas pendidikan dari pemerintah sudah banyak, Maka tujuan diakonia bidang pendidikan tidak perlu lagi dengan mendirikan sekolah kristen. Tujuannya bisa diubah, misalnya dengan mengorganisir gerakan orang tua asuh atau membuat program beasiswa. Demikian juga diakonia bidang kesehatan, tidak harus dengan memberikan bantuan biaya pengobatan ataupun mendirikan rumah sakit. Kita bisa lakukan dengan pembinaan praktek cara hidup sehat, atau mendirikan taman tanaman obat atau membuat pabrik jamu.

Sudah saatnya kita melakukan perubahan arah dan tujuan diakonia gereja kita, supaya kontekstual dan semakin mengena sasaran.

Strategi yang sesuai dengan keunggulan

Pelaksanaan program diakonia itu supaya berlangsung dengan baik dan berkelanjutan perlu mempertimbangkan keunggulan atau kekuatan gereja kita. Sebagai sebuah organisasi, apa keunggulan gereja kita, apa kelebihan gereja kita dibandingkan dengan yang lain. Kita bisa melakukan analisa kekuatan dan memilih strategi yang diperkirakan paling berhasil dilakukan. Misalnya, kita mau memprogramkan diakonia di bidang apa, maka kita harus melihat dulu apa yang paling unggul dalam gereja kita atau apa yang paling baik yang bisa dikerjakan oleh sebagian besar anggota gereja kita.

Mulai dengan apa yang sudah berjalan baik

Kadang orang hanya sibuk merancang dan merancang. Tidak tahu mau mulai dari mana. Karena itu, sangat penting untuk melihat apa yang berlangsung dengan baik dalam gereja kita atau masyarakat kita. Misalnya, dalam gereja kita ada arisan ibu-ibu yang sudah berjalan baik dari tahun ke tahun. Ada kepercayaan dari masyarakat terhadap arisan tersebut sehingga ada beberapa anggota masyarakat yang ikut terlibat. Majelis jemaat bisa menggunakan kelompok arisan tersebut untuk melaksanakan program diakonia. Bisa dipilihkan bentuk diakonia yang sesuai dengan kecenderungan dari kelompok arisan tersebut. Misalnya, soal tabungan, soal manajemen ekonomi rumah tangga, soal kesehatan para lansia atau yang lain yang bisa diterima dengan gembira oleh kelompok arisan tersebut.

Demikianlah sekilas pintas soal diakonia yang kontekstual. GKSBS Sumberhadi mau menjadi jemaat yang paling unggul dalam bidang diakonia. Karena itulah kebanggaan kita sebagai pengikut Kristus di tengah masyarakat yang semakin rumit problematikanya ini. Kita yakin bahwa kita bisa melakukannya. Dan pasti kita bisa bergembira terlibat dalam program diakonia yang kontekstual itu. Tuhan bersama kita. Amin.

 

Share